
PT Perkebunan Nusantara V membidik pasar CPO Uni Eropa setelah mengantongi sertifikat International Sustainability and Carbon Certification (ISCC). Sertifikat itu merupakan sertifikasi berstandar internasional dengan standar
Energi Terbarukan Uni Eropa (EU
renewable energyDirective).
"Saat ini kita sudah mengantongi lima sertifikasi ISCC untuk 5 PKS (pabrik kelapa sawit) dan 7 unit kebun. Tahun depan, rencananya ada tiga PKS lagi akan memperoleh ISCC," ujar CEO PTPN V Jatmiko K Santosa dalam keterangan resminya, kemarin.
Perusahaannya baru saja kembali meraih sertifikat budi daya dan pengelolaan perkebunan sawit yang lestari tingkat internasional (Roundtable on Sustainable Palm CWRSPO), dari lembaga sertifikasi internasional TUV Rheinland.
Lembaga tersebut memberikan sertifikat RSPO kepada tiga unit pabrik
kelapa sawit(PKS), berikut tiga kebun pemasoknya yang ada di Riau.
Sebelumnya, sebanyak 6 PKS dan 1 pabrik inti sawit yang dikelola PTPN V telah mengantongi sertifikat RSPO. Saat ini total ada 10 sertifikat RSPO yang telah diraih PTPN V.
Jatmiko menargetkan, pada 2022, seluruh pabrik sawit perusahaan yang terdiri atas 12 PKS dan 1 pabrik inti sawit sudah tersertifikasi RSPO.
"PTPN V menjadi pionir untuk meningkatkan citra
kelapa sawitIndonesia di pasar global, yang secara tidak langsung akan berpengaruh pada menguatnya harga CPO," ucap Jatmiko.
Gabungan Pengusaha
kelapa sawit Indonesia (Gapki) mencatat ekspor produk minyak sawit Indonesia masih positif sepanjang semester 1-2020 di tengah situasi perekonomian domestik dan global yang mengalami kontraksi akibat pandemi covid-19.
Ketua Umum
Gapki Joko Supriyono menyebut nilai ekspor sawit pada Januari-Juni 2020 mencapai US$10 miliar dan menjadi kontribusi terbesar terhadap surplus ekspor nonmigas pada neraca perdagangan Indonesia semester 1-2020.
Sumber: Media Indonesia