Palm Oil Today

Konflik Timur Tengah Picu Potensi Lonjakan Permintaan CPO dari Industri Biodiesel

10 Mar 2026

Konflik Timur Tengah Picu Potensi Lonjakan Permintaan CPO dari Industri Biodiesel
Konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah berpotensi meningkatkan permintaan minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO), terutama dari sektor biodiesel dan kebutuhan pangan. Kondisi ini dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah dunia serta meningkatnya biaya pengiriman. Sejumlah pelaku industri menyebutkan bahwa pembeli di kawasan Asia kini cenderung mencari pasokan minyak sawit dengan pengiriman cepat untuk mengantisipasi ketidakpastian pasar. Sebelumnya, produksi minyak sawit dari Indonesia dan Malaysia mencapai rekor tertinggi sepanjang 2025. Peningkatan produksi tersebut sempat membuat stok melimpah dan menekan harga CPO di pasar global. Namun, situasi geopolitik di Timur Tengah kini mengubah dinamika pasar, sehingga minyak sawit kembali menarik bagi industri biodiesel dan mendorong harga naik ke level tertinggi dalam lebih dari satu tahun. Baca juga: Uji Coba Biodiesel B50 Diperluas ke Sektor Tambang hingga Ketenagalistrikan Kepala Riset Sunvin Group yang berbasis di Mumbai, Anilkumar Bagani, menjelaskan bahwa harga minyak sawit saat ini diperdagangkan dengan diskon yang cukup besar dibandingkan gasoil. Selisih harga tersebut membuat penggunaan minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel menjadi lebih menarik bagi pelaku industri. Di sisi lain, harga minyak mentah global melonjak lebih dari 25 persen pada Senin (9/3/2026) dan mencapai level tertinggi sejak pertengahan 2022. Kenaikan ini terjadi setelah beberapa produsen utama mengurangi pasokan, sementara kekhawatiran terhadap potensi gangguan distribusi terus meningkat.
CPO biodiesel CPO biodiesel
Indonesia sebagai pengguna biodiesel berbasis sawit terbesar di dunia juga tengah mempertimbangkan kembali rencana peluncuran biodiesel B50 pada pertengahan tahun ini. Kebijakan tersebut diproyeksikan menjadi salah satu langkah untuk meredam dampak lonjakan harga minyak mentah. Sebelumnya, pemerintah Indonesia sempat menunda implementasi B50 pada Januari lalu karena menghadapi sejumlah tantangan teknis dan pembiayaan. Sebagai alternatif, pemerintah tetap menjalankan program mandatori biodiesel B40. Namun demikian, menurut Bagani, perubahan kebijakan energi dalam jangka panjang kemungkinan baru akan terjadi jika harga minyak sawit terus berada pada level yang lebih rendah dibandingkan gasoil dalam periode yang cukup lama. Baca juga: APROBI: Jumlah Badan Usaha Biodiesel Bertambah Jelang Implementasi B50 Minyak sawit sendiri merupakan salah satu minyak nabati paling banyak digunakan di dunia. Komoditas ini dipakai dalam berbagai produk, mulai dari makanan seperti kue dan minyak goreng hingga kosmetik dan produk pembersih. Secara global, minyak sawit menyumbang lebih dari setengah total perdagangan minyak nabati. Wakil Ketua sekaligus Direktur Utama United Plantations Berhad, Carl Bek-Nielsen, menyatakan bahwa negara-negara di Asia Tenggara memiliki posisi strategis untuk memasok minyak sawit secara konsisten kepada pembeli di Asia, Timur Tengah, hingga Eropa. Meski demikian, seorang pedagang minyak nabati yang berbasis di New Delhi mengingatkan bahwa kenaikan permintaan mungkin tetap terbatas. Hal ini karena harga minyak sawit saat ini masih relatif lebih tinggi dibandingkan minyak kedelai, yang juga menjadi alternatif bahan baku bagi berbagai industri.