
SAMPIT-Gabungan Pengusaha
kelapa sawit Indonesia (Gapki) mengakui pandemi Covid-19 membawa dampak terhadap perekonomian. Namun demikian, perusahaan
kelapa sawit di Kalimantan Tengah (Kalteng) diyakini mampu bertahan dan bisa melewati masa-masa sulit ini.
"Saya sependapat dengan yang disampaikan Sekjen
Gapki Kanya Lakshmi Sidarta bahwa memang ada dampak secara finansial bagi perusahaan
kelapa sawit di Kalteng, namun belum sampai ada yang melakukan PHK (pemutusan hubungan kerja) atau bahkan hingga menutup perusahaan," kata Ketua Bidang Publikasi dan Komunikasi
Gapki Kalteng Siswanto di Sampit, Senin (27/4).
Siswanto seperti dilansir Antara mengakui, pandemi Covid-19 pasti memiliki dampak terhadap perkebunan kelapa sawit. Sejumlah perusahaan mulai melakukan strategi untuk bisa terus bertahan di tengah kondisi saat ini yang memaksa ekonomi seakan bertahan di titik nol karena minimnya aktivitas pasar. Menanggapi informasi terkait ada dua perusahaan perkebunan di Kalteng yang dinyatakan tutup, hingga saat ini
Gapki Kalteng tidak bisa menemukan data tersebut.
Menurut Siswanto sejumlah langkah finansial telah dilakukan oleh perusahaan perkebunan
kelapa sawit di Kalimantan Tengah untuk bertahan dan menghindari PHK. Penghematan dilakukan di berbagai bidang dalam menyiasati kondisi sulit ini. "Bahasa lainnya adalah dengan mengencangkan ikat pinggang, mengelola pemasukan dengan pengeluaran agar perusahaan tetap bisa bertahan di tengah kondisi pandemi Covid-19 dan karyawan tetap bisa menafkahi keluarga mereka," kata dia.
Perusahaan juga berupaya semaksimal mungkin membantu petani. Petani
kelapa sawit yang menjual hasil kebunnya ke perusahaan, masih mampu dihargai dengan secara manusiawi. Hal itu sebagai salah satu bentuk kepedulian agar dapur petani sawit rakyat tetap mengepul di tengah pandemi Covid-19 yang masih melanda dan itu merupakan salah satu bentuk dukungan
Gapki agar pandemi Covid-19 ini segera berakhir dan ekonomi kembali bergeliat seperti sedia kala,
Sumber: Investor Daily Indonesia