Palm Oil Today

Harga CPO Naik Tajam Dipicu Perang Timur Tengah

04 Mar 2026

Harga CPO
Harga Crude Palm Oil (CPO) melonjak signifikan di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) pada perdagangan Senin (2/3/2026). Kenaikan harga CPO ini dipicu oleh eskalasi perang di Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga energi global serta penguatan harga minyak nabati di pasar internasional. Sentimen positif tersebut membuat kontrak CPO menyentuh level tertinggi dalam sepekan dan menguat dua sesi berturut-turut.

Harga Kontrak CPO Maret–Agustus 2026 Kompak Menguat

Berdasarkan data BMD, kontrak berjangka CPO Maret 2026 naik 69 Ringgit Malaysia menjadi 4.058 Ringgit per ton. Kontrak April 2026 melonjak 102 Ringgit ke posisi 4.132 Ringgit per ton. Sementara itu:
  • Mei 2026 naik 105 Ringgit menjadi 4.147 Ringgit per ton
  • Juni 2026 melejit 104 Ringgit ke 4.150 Ringgit per ton
  • Juli 2026 melesat 140 Ringgit menjadi 4.147 Ringgit per ton
  • Agustus 2026 terkerek 104 Ringgit ke 4.142 Ringgit per ton
Kenaikan harga CPO Malaysia ini mengikuti pergerakan minyak nabati pesaing di pasar global.

Pengaruh Harga Minyak Nabati dan Minyak Mentah Global

Di China, kontrak minyak kedelai aktif di Dalian Commodity Exchange naik 0,41%, sedangkan kontrak minyak sawitnya menguat 1,62%. Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) bahkan melonjak 2,55%. Minyak sawit secara historis bergerak searah dengan minyak nabati lain karena bersaing dalam pasar minyak nabati global. Ketika harga minyak kedelai dan energi naik, harga CPO cenderung ikut terdorong. Lonjakan harga semakin diperkuat oleh kenaikan harga minyak mentah dunia yang melonjak sekitar 9%. Gangguan pelayaran di Selat Hormuz akibat serangan balasan Iran meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global. Situasi ini terjadi setelah konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat semakin memanas. Kenaikan harga minyak mentah membuat CPO semakin kompetitif sebagai bahan baku biodiesel, sehingga mendongkrak permintaan dan sentimen pasar.

Dampak Kebijakan Ekspor dan Data Perdagangan

Dari sisi domestik, Indonesia menaikkan pungutan ekspor CPO menjadi 12,5% dari harga referensi, naik dari sebelumnya 10%. Kebijakan ini bertujuan mendukung program mandatori biodiesel nasional. Di Malaysia, ekspor produk minyak sawit Februari tercatat turun 21,5% dibanding Januari menurut survei Intertek Testing Services. Data AmSpec Agri Malaysia juga menunjukkan penurunan ekspor sebesar 25,5%. Sebaliknya, ekspor minyak sawit Indonesia menunjukkan lonjakan signifikan. Pada Januari, Indonesia mengekspor 2,24 juta ton CPO dan produk turunannya, naik 77,07% secara tahunan dengan nilai mencapai US$ 2,29 miliar.

Prospek Harga CPO ke Depan

Dengan ketegangan geopolitik Timur Tengah yang belum mereda dan harga minyak mentah yang masih fluktuatif, pergerakan harga CPO berpotensi tetap volatil dalam jangka pendek. Faktor energi global, kebijakan ekspor, serta permintaan biodiesel akan menjadi penentu utama arah harga minyak sawit selanjutnya.