Palm Oil Today

Harga Bioavtur Sawit Perlu Dibedakan Berdasarkan Bahan Baku

15 Feb 2026

Harga Bioavtur Sawit Perlu Dibedakan Berdasarkan Bahan Baku
Bioavtur sawit atau sustainable aviation fuel (SAF) yang berasal dari limbah industri sawit dinilai perlu skema baru mengikuti kebijakan harga dan bahan bakunya. Langkah ini dianggap penting sebagai transisi energi yang  efektif sekaligus mendorong penggunaan bahan bakar yang rendah emisi. Dilansir dari Kompas.com, Direktur Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute, Tungkot Sipayung, menilai faktor harga dapat menentukan keberhasilan SAF dalam upayanya menekan emisi gas rumah kaca. Lebih lanjut, Tungkot menyatakan bahwa bioavtur sawit seperti POME dan HAPOR memiliki jejak karbon yang lebih rendah dibanding SAF dari minyak sawit mentah (CPO). Berdasarkan analisis siklus hidup, bahan baku limbah sawit menghasilkan emisi lebih kecil karena tidak berkaitan dengan ekspansi lahan baru. Oleh karena itu, pasar dan pemerintah dianggap perlu memberikan insentif harga agar penggunaan residu sawit semakin kompetitif. Kebijakan pungutan ekspor yang membedakan turunan dari produk kelapa sawit dapat menjadi solusi untuk hal ini. Di sisi lain, kebutuhan energi bersih pada sektor penerbangan juga terus meningkat. Indonesia dinilai dapat memanfaatkan potensi sawit sebagai sumber biofuel yang dapat menggantikan bakar fosil. Hal ini menjadi relevan karena minat investasi asing pada industri SAF dinilai semakin membaik, termasuk rencana perusahaan Turki yang ingin memasok bahan bakar ramah lingkungan untuk penerbangan internasional.

Bioavtur Sawit

Kepala Divisi Riset Indonesia Palm Oil Strategic Studies, Dimas H. Pamungkas menjelaskan bahwa skema CORSIA yang dikembangan International Civil Aviation Organization menunjukan bahwa SAF berbasis POME memiliki jumlah emisi yang jauh lebih rendah dibandingkan bahan bakar yang berasal dari CPO. Bahkan, bahan bakar yang berasal dari limbah sawit diprediksi mampu menekan penurunan emisi gas hingga 80% dibandingkan avtur konvensional yang saat ini masih beredar. Baca juga: B40 Dorong Transisi Energi Domestik, Sawit Jadi Penopang Neraca Perdagangan Walaupun demikian, SAF berbasis CPO tetap memiliki peran dalam dekarbonisasi penerbangan. Riset yang dilakukan International Air Transport Association menunjukan bahan bakar dari minyak sawit dipercaya memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pengurangan emisi industri penerbangan, terutama jika didukung oleh teknologi penangkapan metana di pabrik pengolahan. World Economic Forum memprediksi kebutuhan bahan bakar di industri penerbangan masih terus meningkat hingga ratusan juta kilometer pada 2025. Melalui ketersediaan bahan baku sawit yang besar, hal ini dinilai menjadi peluang strategis bagi Indonesia untuk menjadi produsen utama SAF di dunia. Oleh karena itu, diferensiasi harga bioavtur sawit tidak hanya soal kepentingan ekonomi, namun hal ini juga menjadi langkah strategis demi mempercepat transisi energi bersih sekaligus menambah nilai guna pada industri sawit di Indonesia.